Arleta Fenty

Sep 05

[video]

Sep 04

[video]

Sep 01

Self Hair Mutilation

When your hair ugly, you are ugly. When your hair fabulous, the world is in your hand. When you cut your hair, you cut some part of your past. When you change your hairstyle, you change your life.

I was dying to cut my hair. But it was too short already. I hate my short hair that I first had after a breakup forever ago. Ugh, what’s wrong with breakup and haircut, seriously? I have my theory already though. Yeaaa.. that’s cliché of me. Me and my theories I invented when I was doing something not cool. I got my “mermaid” theory when I was randomly hiking in a hill I don’t even remember which one (yes I consider it as not cool).

You know.. mermaid actually does exist. I’m a mermaid. You are too. We are half mermaids. So cheer up! We live in a planet full of 50% mermaids! Thanks God now I wanna cry.. *damn I’m a mermaid I can now die feeling sexy and hot and salty..

So.. let’s back to the haircut and breakup theory. Why do women want to cut their hair.. sooo much, after a breakup? Well not just women actually. But who’s interested in men? They suck.

It’s probably the “well-he-liked-my-old-hair-but-then-he-dumped-me-so-screw-him-i’m-not-gonna-walk-in-the-city-looking-like-the-old-me-that-he-ever-liked-anymore-never-ever-ever” thing, which happens to be the most voted reason I believe. It can also be “I-wanna-cut-it-with-my-bare-hand-and-let-each-piece-of-it-falls-on-the-floor-so-I-can-let-the-pain-go-and-start-moving-on-hitting-some-chicks-cause-now-I’m-a-lesbian-hell-yeah”, which is a bit sick.

Another theory fitted me better: “I-just-wanna-cut-it-dye-it-and-ombre-it-because-I’m-a-grown-up-woman-and-I-do-what-I-want”.

So I told you that my old hair was already short and I hated short hair.. too much. But I bought a cool razor already, so I had to give my precious razor a little appreciation, right? That’s why when another breakup came up (damn feeling thanks for being fine when I’m writing this, you’re the best!), I decided to have hair extension first, so I could cut it then, with my bare hand. I then bought a human hair which was ridiculously expensive, and asked a hair-extension expert to help me put that shit on my original hair using ring method. Then I asked her to go home, and I took my precious razor. She was a bit worried because if I did it wrong, game over.

But I insisted and whispered, “Excuse me Lady.. This is my fucking hair. I bought it with my own money. Every penny. I. Just. Want. To. Mutilate. Each. Of. Them. And. Hear. Their. Screaming. Sounds. Before. They. Die. On. The. Floor. And. I. Want. It. So. Much. That. It. Hurts..”

It scared her enough and she walked out the door letting me be a hair psycho.

And these are what it now looks like..

PicsArt_1409228775548

PicsArt_1409228938035

Cool huh? (okay it’s a disaster.. dammit. But please be happy for me..)

And sorry if you think I totally nailed it that you want me to do it for you, I now retired.

Aug 16

Shuffle Button

I just found a new fun game: turn on shuffle button in your music player and wait until the universe surprises you.

Ladies, it’s super normal that when you’re sad, you keep replaying that one depressing song over and over again. Those rational unemotional men will probably call you a dramaqueen. That you’re just torturing yourself. That you are self harming mentally. That you overthink. That is true, but at least we do think. They never do. *highfive*

What you do without realizing it, is that you pick your own soundtrack for particular episode of your life. You’re burying those memories with certain melodies. And lyric. Years later when this song comes up, it will replay that memory in your head like a movie with you as the star.

So back to the shuffle button. Today I accidentally turned it on when it had like thousands of songs in the playlist. Then it had come to this: a surprising song was played, one of Simon and Garfunkel’s. It was my one of breakup’s soundtrack long time ago. I was not okay at that time. I was probably listening to that song 7/24 with max volume while eating raw carrots on my bed watching When Harry Met Sally and any other romcoms I had. I was totally not fine.

And guess what happened when this song came up today? I could see me in the exact days when I tortured myself with its lyric. What I looked like. What he looked like. What our last kiss tasted like. What our last words. But.. I could’t feel what my heart felt at that time. I am now fine.

So later on, in the middle of abusing yourself emotionally with a frustrating music when a tough stuff happens, play this game. Give the universe a chance to surprise you. It may replay a worse episode ever happened in your life that the best director thinks filming this story will ruin the humanity. Then you’ll see, your mind may remember years later. But your heart not.

Dec 06

Separuh

Konon, ada sebuah negeri yang manusianya berjalan dengan separuh badan dan jiwanya. Tentu saja ini hanya dongeng. Manusia di negeri yang ganjil ini menghabiskan seluruh waktu hidupnya untuk mencari separuhnya yang hilang. Menakutkan memang. Aku sulit membayangkan diriku berjalan hanya dengan satu kepala, dua kaki dua tangan, satu jantung, satu hati, dan yang terburuk adalah satu jiwa. Adakah yang lebih mengerikan daripada menyadari kau beraktivitas dengan separuh dirimu? Dan di mana dirimu yang separuh lagi? Di mana jantungmu yang satu lagi?

Dongeng ini pertama kali kudengar dari Paman Kihl saat aku masih berumur 650 tahun. Kami sedang menunggu kereta menuju Kota Aokt di Stasiun Xocdsamje. Aku membuat Paman menungguku cukup lama yang pamit ke toilet stasiun. Dongeng itu begitu membekas di hatiku. Aku berdiri lama di depan cermin toilet. Memosisikan separuh tubuhku terlihat di cermin, dan separuh yang lain tertutup tembok. Lalu aku membayangkan petualangan mencari separuh tubuhku, separuh jiwaku. Pastilah makhluk-makhluk di dongeng itu mengalami kehidupan yang seru, pikirku.

Lalu aku kembali ke Paman Kihl dan mendesaknya melanjutkan dongeng yang fantastik itu.

"Bagaimana cara mereka mencari potongan tubuhnya yang lain?"

"Mereka menyebutnya pasangan hidup. Bukan potongan tubuh seperti yang kamu bayangkan," ujar Paman dengan mimik muka sungguh-sungguh.

"Lalu bagaimana mereka tau kalau yang ditemukannya itu benar-benar ‘dirinya yang lain’? Bagaimana jika salah?"

Tentu saja ini pertanyaan penting. Jika semenjak lahir aku berpisah dengan tubuhku yang lain, lalu kami saling mencari, bisa kau bayangkan betapa repotnya? Jika kami dipisahkan saat aku sudah remaja, misalnya saat aku berumur 1300 tahun, pasti lebih gampang karena selama seribu tiga ratus tahun sebelumnya, aku sudah ‘kenal’ dengan separuh tubuhku yang lain.

"Ya, mereka hidup untuk mencari sesuatu yang seharusnya bersama mereka sejak dalam pikiran. Sesuatu yang menjadi takdirnya. Bahwa kemudian ada kesalahan, tubuh dan jiwanya tidak akan berhenti mencari."

Kereta datang. Aku masih tersesat dalam dongeng itu.

Mar 31

Mitochondrial Eve

Kau akan tau pada saatnya. Jika antara kau dan pangeran dalam kastilmu, menyekat dinding yang mengangkasa. Pintu yang terkunci abadi. Lantai yang menggelincirkan hati. Tak peduli berapa tahun engkau menjaga batu-batu itu kokoh berdiri. Menjaganya senyata yang kau kira. Dan pangeranmu tetap duduk di singgasana tertinggi. Berjarak. Tak tersentuh. Bias dan khayali.


And so it is
The shorter story
No love, no glory
No hero in her skies


Kau akan tau pada saatnya. Bahwa meski hidup di satu galaksi, kau hanya berdiri di atas bumi. Dan ia bintang. Bintang yang terjauh. Di antara kalian, hangat sinar bulan memelukmu saat senja dan fajar di kedua ufuk. Dan menjadi penjaga di antara waktu keduanya.


But I still can’t take my eyes off you.


Kau akan tau pada saatnya. Bahwa kau dan dia lahir di dunia yang hanya berpapasan pada orbitnya. Tanpa saling menyentuh, pun untuk sekelebat atmosfer.

I can’t take my eyes off you.


Kau akan tau pada saatnya. Terlalu sederhana mengonsepkannya sebagai manusia. Dengan sepasang mata yang indahnya luar biasa menyakitimu. Hingga ke tulang-tulang. Kesempurnaan yang kejam. Yang mungkin, jika kau telusuri Mitochondrial Eve dalam tubuhnya, tak ada satupun selmu yang bisa kau temukan menyatu di dalamnya.

I can’t take my eyes off you.


Kau akan tau pada saatnya. Dinginnya pagi menantimu kembali dari mimpi. Agar ia bisa menamparmu dengan dingin udara yang nyata. Yang ada. Yang bisa kau rasai basah embunnya di kulitmu. Yang mencintaimu.

And so it is
Just like you said it should be
We’ll both forget the breeze
Most of the time


Dan kau akan tau pada saatnya. Kapan kastil itu harus runtuh.


-Damien Rice - Blower’s Daughter-

Feb 06

Wish You Were Here

Jadi.. Jadi kau pikir, kau bisa katakan bahwa, dari neraka yang menyala-nyala, kau sanggup mereguk surga? Bahwa biru langit lahir dari rasa sakit? Kau pikir kau bisa katakan, bahwa rumput dan hijaunya yang hangat di matamu, tumbuh di atas rel baja yang dingin, mati dan artifisial? Kau pikir kau bisa katakan, kau akan tersenyum bahagia di balik kerudungmu yang samar?

Apa kau pikir, kau bisa mudah katakan itu semua?

Dan apakah mereka, membuatmu rela menukar kawanmu dengan hantu yang kau reka? Membuatmu menukar maut dengan pohon delusi? Membuatmu menukar kebohongan dengan kenyataan yang beku? Dinginnya ketenteraman untuk perubahan yang kau tunggu?

Dan apa kau benar-benar akan menukar kesempatan untuk melangkah gagah, menjadi bagian dalam peperangan, dengan sebuah penjara di mana kau menjadi satu-satunya pesakitan di balik jerujinya?

Betapa aku berharap.. Betapa aku berharap kau ada di sini. Karena akhirnya kita hanyalah dua jiwa yang tersesat tanpa satu dan lainnya. Menjadi ikan-ikan yang berenang di akuarium yang kita pilih. Tahun demi tahun. Tak henti. Berlarian menginjaki tanah yang kita kenal lama, dengan masing-masing sepatu kita. Tapi apa yang kita temui? Ketakutan-ketakutan usang yang sama.

Aku, berharap kau di sini.

 

Wish You Were Here - Pink Floyd

Oct 03

Creep

Pernah kubilang, aku selalu merasa tidak nyaman dengan film yang membunuh tokoh utamanya pada lima belas menit pertama. Lalu sutradara memutar waktu hingga tiga atau bahkan dua puluh tahun sebelum kematian itu. Dan di sepanjang film kita menyaksikan bagaimana tokoh utama menjalani hari-hari selama ia masih bisa berbicara. Tersenyum. Jatuh cinta. Berjalan kaki di antara gedung-gedung kota. Begitu seterusnya hingga kita mulai menyayanginya, hanya untuk tau bahwa dua jam lagi ia akan mati.



Aku selalu merasa tidak nyaman dengan keniscayaan bahwa memilikimu adalah mustahil. Sedang perasaan kecil di satu titik di hatiku yang mengakui cintanya kepadamu begitu mendera. Lalu mataku membiasakan retinanya merefleksikan dirimu yang sublim, hanya untuk tau bahwa keagungan tidak akan pernah menjadi hakku.

When you were here before, I couldn’t look you in the eye. You’re just like an angel. Your skin makes me cry. You float like a feather. In a beautiful world.  

Ada yang salah tentang cara tuhan bekerja. Ia membangun jembatan yang terlalu jauh membentang, antara kesempurnaan dan kehinaan. Hingga saat mata kita bertemu, tubuhku rengsa. Menyentuh kulitmu membuatku ingin menangis. Bahwa setiap pasir yang kau injak akan mengutuki betapa kecil dirinya dibanding kemuliaanmu.

You’re so fucking special. I wish I was special.

Maka aku menemuimu pada satu hari sebelum kau menikah dengan sahabatku. Mengucapkan selamat menikah, selamat tinggal, dan bahwa aku pernah dan masih mencintaimu sejak ribuan tahun. Maaf, aku lupa kapan tepatnya aku mulai mencintaimu. Karena pada hari ketika hatiku pertama berdenyar, jarum jam membekukan dirinya. Kehidupan di sekelilingku berhenti. Memberi waktu pada diriku mengagumimu. Bukankah ini menyakitkan, bahwa aku mencintaimu bukan atas kesempatan yang kau beri, tapi karena semesta mengutuk dirinya menjadi batu hingga aku bisa bergerak bebas dalam kekelabuan.

I don’t care if it hurts.

Lalu aku menuntaskan kesempatan yang pernah alam sematkan pada bahuku untuk kejujuran ini. Dan kau hanya diam menyaksikan wajahku banjir air mata. Aku berharap itu bukan karena seseorang menancapkan paku di sepatumu. Ya, harus ada penjelasan bagus mengapa seorang pria diam saja saat ada wanita menjerit-jerit bahwa ia jatuh cinta padanya.

Jantungku bagai berhenti berdetak saat aku menyelesaikan kalimatku. Apa itu artinya aku harus bicara lagi? Tentu saja. Apa kau pikir perasaan yang dipendam selama ribuan tahun bisa habis begitu saja dimuntahkan dalam tak lebih dari satu jam bicara?

Tapi aku memilih berlari pergi, bahkan sebelum kau mengambil nafas pada detik pertama aku selesai bicara. Ini terlalu terlambat.

I’m a creep, I’m a weirdo. What the hell am I doing here? I don’t belong here.

I’m a creep,

I’m a weirdo..

—-

Radiohead - Creep

Sep 12

Memasung Sayap Kupu-Kupu

Harus ada alasan bagus mengapa Edward Norton Lorenz menamainya efek kupu-kupu atau Butterfly Effect. Ia bisa saja memilih hewan lain yang ‘tidak cukup puitis untuk dijadikan teori fisika’, misalnya camar laut, atau burung gereja.

Satu kepakan sayap hewan mungil ini adalah bagian dari kondisi awal, yang olehnya menimbulkan perubahan ritme udara dan cuaca, hingga memunculkan hurricane atau tornado di belahan bumi lainnya.

Aku yakin kita bukan versi satu-satunya dari raga yang kita rasuki. Ada diri kita dengan versi lain di alam yang berbeda, yang sedang sangat bahagia dengan hidupnya. Sedangkan yang ada di dunia ini adalah versi tersedih dari diri kita. Mungkin kita yang di sini adalah kondisi akhir yang dipicu kepakan sayap seekor kupu-kupu di kebun tetanggamu. Mungkin versi bahagia diri kita di alam lain itu adalah bagian dari himpunan kondisi yang tidak melibatkan sayap apapun.

Apa yang terjadi ketika manusia tau kapan ia akan mati? Mungkin tidak lebih mengerikan daripada mengetahui kapan dunia kiamat, seperti yang digambarkan di Melancholia. Mengapa tuhan tidak membuat kita memiliki pengetahuan kematian itu? Seperti saat ia mencipta manusia sekaligus iblis, lalu menjadikannya hiburan dengan mengadu keduanya dan menertawakan doa manusia untuk terbebas dari iblis?

Jika aku tau besok aku akan mati, aku akan menggunakan hari ini untuk..

melihat mentari yang membenamkan dirinya di akhir horizon pantai, dalam usia tersepuhnya di satu hari, atau..

makan red velvet cake sebanyak mungkin pukul dua pagi, atau..

menulis lagu tentang bagaimana perempuan yang putus asa berusaha membutakan sepasang mata yang mengusik mimpi dan keseimbangannya.

Dan aku akan memasung sayap kupu-kupu, mencegahnya menyeru bencana. Aku akan bahagia demi pergi darimu, mencegahmu memporanda apa yang telah tersketsa.

Selamat bertambah usia, gadis dalam cermin yang hidupnya tergadai proyeksi. Semoga esok engkau masih bisa terbangun dan memulai hari.

Sep 07

Is it Muse, or is it just a Madness?

Daya kejut kecil ini dimulai ketika Matthew Bellamy memposting tweetnya tanggal 20 November 2011, sehubungan dengan genre apa yang akan Muse jajaki di album The 2nd Law:

Mungkin ada beberapa reaksi muncul, seperti:

1. Common people: “Ha ha Matt u’re funny.”
2. Post Twilight Movie fans: “Awww that’s cool! They should collaborate with Bieber and Ke$ha too! What’s psychedelia by the way?”
3. Haters: “Really Muser? And you’re still with them? Surely Radiohead will never ever do shits like these. Ha ha!”
4. Tired-of-changes fans: “I’m done with them. They even can do rap if they want, who cares?”
5. Loyal die hard fan: “Ha ha Matt of u’re joking. Or not? Oh Lord tell us u’re joking! Matt? Matt?! Oh my God someone call 911 please! Zetaaas!!!!”

Sebagian besar menganggap tweet ini bersifat trolling, mengingat bahwa mereka dikenal senang make a fun dengan fansnya. Seperti ketika April Mop 2010 mereka merilis single absurd bertajuk Exogenesis Part 4 (Salvation), yang ternyata berisi music cover versi armageddon dari Creep (Radiohead). Atau ketika pada April Mop 2012 mereka memenuhi halaman board di official site dengan judul lagu dan logo Radiohead, lengkap dengan header title “Radiohead, Lol”.

Memang sulit untuk membayangkan Matt serius dengan tweet ini. Meski menyandang predikat band eksperimental, “christian gangsta rap jazz odyssey, some ambient rebellious dubstep and face melting metal flamenco cowboy psychedelia” is so not their things.

Kemudian ketika Muse merilis video trailer sepanjang 2:09 menit untuk The 2nd Law lewat Youtube, orang-orang berkata, “Now who thinks he’s joking?”.

Delapan puluh sembilan detik pertama trailer ini yang memperdengarkan musik orkestra ala soundtrack film tentang apocalypse atau tipikal semacam itu. Video ini menampilkan orang-orang yang berlarian panik, aktifitas kesibukan manusia di bursa saham, kegiatan eksploitasi energi, dan cuplikan seorang anchor wanita (Elena Evangelo - G.I. Joe) yang membaca berita tentang supply energi dunia yang menipis. Jika video ini memang sebuah trailer untuk film, mungkin Morgan Freeman akan berperan menjadi Presidennya, if you know what I mean. Delapan puluh sembilan detik pertama ini masih terdengar Muse-ic dan mengingatkan kita pada Butterflies and Hurricanes.

Menit-menit berikutnya hingga video berakhir, membuat saya hampir terjatuh dari kursi. Bagaimana tidak. Tiba-tiba muncul robot televisi dengan suara vocodernya mengulang-ulang kata “unsustainable”. Kemudian terdengar musik dubstep lengkap dengan suara wubwubwub-cwiwcwiw yang menggelitik kuping.

Ini sangat shocking. Seperti ketika sebuah kecelakaan menghilangkan memorimu lima tahun terakhir dan seseorang memberi tahumu bahwa Obama kini adalah Presiden Amerika.

Tidak ada yang salah dengan dubstep. Kita tidak sedang berbicara tentang apakah musik ini secara musically terdengar musical. Kita tidak sedang berbicara tentang DJ dan komputernya yang membunuh esensi musik yang berinstrumen. Ini adalah tentang bagaimana ketika Muse, band rock dengan predikatnya sebagai band dengan live performance terbaik, menantang diri untuk menjajal genre ini. Meski tentunya mereka akan menggunakan instrumen, seperti ketika Bellamy mulai memakai Manson yang ditanamkan Kaoss pad sebagai MIDI controller di dalamnya untuk mengeksekusi suara-suara aneh, memilih dubstep tergolong hal nekat. Lebih nekat dari memilih mie ongklok sebagai extreme culinary.

Entah fanbase mana yang Muse coba pertahankan. Yang pasti bukan mereka-mereka yang dengan setia mengikutinya sejak 1999. Saya sempat kecewa ketika Black Holes and Revelation rilis karena hampir tidak mengenali mereka di Supermassive Black Hole, dan memutuskan untuk hanya mendengarkan Origin of Symmetry dan Absolution saja. Kemudian event bersejarah mereka di Wembley Stadium menggaung di mana-mana, yang memaksa diri saya untuk mendengar album itu secara keseluruhan dengan lebih serius. Itu saat saya mulai bisa menerima resiko menjadi fans sebuah band eksperimental, untuk mengalami serangan jantung setiap album baru dirilis.

Lalu single-single berikutnya selalu mengejutkan. Dengan sendirinya, orang-orang berhenti berharap mereka mengembalikan musiknya ke era Origin of Symmetry.

Dimulai saat The Resistance dirilis, diikuti love song dengan lirik rasa keju yang digunakan sebagai salah satu soundtrack Twilight Saga bertajuk Neutron Star Collision. Era album kelima ini adalah saat-saat berat bagi fans Muse, dan kata “what-the-fuck” memenuhi ruang komentar di Youtube dan message board.

NME Award yang dikenal menyukai Muse karena tiap tahun memasukkan mereka menjadi nominasi, mulai bertingkah aneh karena memasukkan Muse sekaligus di kategori Best Band dan Worst Band. Musers di Muselive.com menyerukan untuk vote Arctic Monkeys saja sebagai best british band di NME Awards 2012 sebagai aksi protes. Beberapa orang menyebut Muse mulai beralih menjadi band tribute untuk Queen karena single United States of Eurasia. Dan simponi Exogenesis, oh, saya speechless. Bukan karena secara musically terdengar buruk, ini malah sangat indah. Tapi ini bukan Muse. Setidaknya, ini bukan Muse yang saya harapkan.

But they are Muse. They can do anything they want, not anything people want.

Jika saja The Resistance adalah garapan band lain, saya akan mengatakan bahwa band ini, yang meski terdengar Queen-esque namun kaya genre, terdengar fantastik dan unbeatable di zamannya. Terbukti bahwa ia mengalahkan Jeff Beck dan Pearl Jam di Grammy Awards 2011 dalam nominasi Best Rock Album. Tapi album ini milik Muse, band yang pernah menulis Apocalypse Please, Bliss, Citizen Erased, Plug in Baby dan Butterflies and Hurricanes. Bagaimana bisa kita menyukai Citizen Erased dan Undisclosed Desires dalam waktu bersamaan?

Kembali ke era The 2nd Law. Satu per satu track mulai dibocorkan. Yang pertama adalah Survival yang menjadi anthem London Olympic 2012. Track ini terdiri dari intro orkestral bertajuk Prelude, diikuti main part of the song yang menggunakan choir megah dengan iringan piano sebagai pengantar vokal Bellamy. Solo gitarnya sangat membakar, diakhiri falsetto Bellamy yang cukup mengobati rasa rindu. Demi Tuhan, ia harus menambahkan falsetto di setiap lagu di album ini, sebelum ia bertambah tua dan tak lagi kuat melengkingkan suaranya.

Lagi-lagi tidak ada yang salah dengan Survival, kecuali bahwa lirik yang terkesan ditulis seadanya. Mungkin ini yang dikatakan Matt kepada Chris dan Dominic sebelum mengerjakan Survival: “Okay guys, kita diminta bikin lagu tentang Olympic. What the entire fuck is that?  Well but it will be a huge promotion untuk album baru kita. I like being famous. Mari kita masukkan kata ‘race’, ‘win’ dan ‘fight’, which are not cool, dan semuanya akan baik-baik saja.”

Track kedua dirilis melalui internet (Youtube). Track ini berjudul Unsustainable, yang ternyata adalah versi lengkap dari video teaser The 2nd Law. Jika mereka menampilkan adegan pembacaan berita oleh si anchor di video visual dalam live performance, saya yakin ribuan penonton konser bisa menirukannya dengan lancar.

Pada 20 Agustus lalu, Muse akhirnya merilis secara official single pertama dari album The 2nd Law, berjudul Madness, melalui Radio 1 BBC. Single ini menghipnotis telinga dengan bass yang brutal, seperti dikutip dari Rolling Stone, “swap bombastic bass brutality with wubby subtleties as Matthew Bellamy croons over a surprisingly gentle pop track”. NME menyebutnya “slinky, soft rock sex music”, yang membuat saya geli. Satu-satunya yang membuat saya eargasmic di single ini mungkin karena vokal Bellamy yang sensual. Musik latar di pertengahan durasi hingga akhir klimaks mengingatkan saya pada Where The Streets Have No Name. The 2nd Law memang disebut-sebut terinspirasi dari U2. Dan dengan solo gitar yang terdengar sangat Brian May, Madness seperti versi elektronik dari I Want to Break Free.

Belakangan, dari video klipnya diketahui bahwa di single ini Chris Wolstenholme menggunakan instrumen Misa Kitara untuk menciptakan suara bass yang trancing.

Chris Martin, vokalis Coldplay, mengeluarkan peryataan mengejutkan lewat Twitter tentang Madness: “Having been their opening act 13 years ago I’m proud to say that I think this is Muse’s best song ever.” Chris jelas adalah fan Muse. Ia pernah mengatakan, bahwa Coldplay tidak akan pernah seekstrem Muse. Bahwa Coldplay akan selalu satu langkah di belakang Muse dan membiarkan mereka menjadi biggest thing. Tapi menyebut Madness “best song ever” terdengar seperti Chris tidak pernah mendengarkan album Muse, minimal, Black Holes and Revelation.

Secara keseluruhan, sulit untuk menyukai single ini. Seperti ketika saya akhirnya “mau” menyukai Undisclosed Desires setelah memaksakan diri mendengarnya sekitar 781838249 kali. Di sisi lain, sulit juga untuk membencinya karena meski tidak terdengar seperti Muse, sebagaimana kata Diffuser.fm, “the unusual blend of sounds works far better than it probably should”.

Sekali lagi, jika Madness adalah single yang datang dari band lain, saya akan lebih mudah menyukainya.

The 2nd Law akan dirilis secara official pada 1 Oktober 2012. Dari ketiga track tersebut, The 2nd Law terdengar seperti kompilasi dari tiga band yang berbeda. Album yang menumpahkan musik-musik lintas genre dalam satu adonan yang surprisingly sounds better than it should be, seperti Queen, U2, George Michael, Prince, Depeche Mode dan Skrillex. Tapi kita harus bisa menerima, musik-musik yang berbeda itu datang dari satu band, my one and only favorite greatest rock band, yang tidak berhenti menjadi berbeda sejak 1999.

***

Musers: “Muse, how dare you treating us like this that it hurts.. You’re now really dissapointing us with this crap version of Queen..”
Muse: “HAHAHAHAHAHA.”
Musers: “…”
Muse: “HAHAHAHAHAHA.”
Musers: “…”
Muse: “HAHAHAH-“
Musers: “Ok nevermind.”